Inilah
Beda KRS FISIP dan FEB Universitas Airlangga
KRS atau Kartu Rencana
Study merupakan momen yang sangat penting bagi mahasiswa. KRS bisa dibilang adalah
gerbang satu semester yang akan dilalui oleh setiap mahasiswa. Hal inilah yang
kemudian menjadikan momen KRS menjadi sangat krusial bagi berjalannya masa
kuliah.
Mahasiswa yang
berkuliah di Universitas Airlangga misalnya, biasanya dijadwalkan melakukan KRS
sekitar tiga hingga dua minggu menjelang masuk semester baru. Di hari pertama
mahasiswa sudah bisa mengakses KRS di Cybercampus, dan mulai memilih mata kuliah
apa saja yang ingin diambil. Begitu proses gampang terjadinya, tetapi kalau
dilihat lebih jauh lagi, proses KRS yang terjadi ini bisa memiliki cerita yang
berbeda di tiap fakultas. KRS yang dialami mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial
dan Politik akan berbeda dengan KRS yang anak-anak Fakultas Ekonomi dan Bisnis
atau Fakultas Psikologi rasakan. Jika di FISIP, mahasiswa bisa dibilang sangat
santai dalam memilih mata kuliah, dapat berdiskusi dan bahkan memiliki beberapa
hari untuk memikirkannya. Seperti yang dikatakan oleh Elis, bahwa ia biasanya
akan ‘janjian’ dengan teman-temannya untuk mengambil mata kuliah tertentu, ia
juga tak jarang mengganti mata kuliah yang sebelumnya sudah akan ia ambil
dengan mata kuliah lain setelah berdiskusi dengan temannya. Beda cerita yang
dialami oleh Ilma, mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam dari FEB, ia mengatakan “KRS
ya harus tepat waktu, berjalannya hanya beberapa menit dan hanya sehari itu
saja. Karena kita harus rebutan untuk mendapat kelas.”
Lalu mengapa hal ini
bisa terjadi, meskipun mereka dari universitas yang sama, tetapi KRSan yang
mereka alami sungguh berbeda. Setelah melakukan wawancara dengan mahasiswa dari
kedua fakultas, ternyata ada beberapa penyebab mengapa hal ini terjadi. Yang pertama
adalah jumlah mahasiswa yang berbeda. Jumlah mahasiswa baru yang diterima di
FISIP tiap tahunnya sekitar 700 orang, artinya tiap jurusan di FISIP memiliki
sekitar 100 orang mahasiswa baru. Sedangkan di FEB, memiliki hampir 200an orang
di tiap jurusan, berarti ada sekitar 800 mahasiswa tiap tahunnya. Belum lagi
mahasiswa yang mengambil tiap mata kuliahnya, di FISIP biasanya mahasiswa tiap
tingkat akan mengambil mata kuliah yang sama, mungkin hanya beberapa mahasiswa
tingkat atas yang mengambil mata kuliah tersebut, itupun karena mengulang
biasanya. Berbeda cerita kalau di FEB, di fakultas ini mahasiswa semester tiga
pun bisa mengambil mata kuliah semester 6 atau mahasiswa semester 5 mengambil
mata kuliah semester 7, belum lagi banyak kating (kakak tingkat) yang ngulang
karena konon katanya ada mata kuliah semester awal yang sangat sulit
mendapatkan nilai bagus, mata kuliah ekonomi mikro misalnya. Kedua, jumlah
ruang kelas. Bisa dibilang, ruangan kelas yang dimiliki oleh FISP dan FEB
memiliki gap yang lumayan. Di FISIP, ruang kelas hanya ada di lantai tiga
gedung A, yaitu 14 ruangan dan di gedung C yang memiliki 6-7 ruangan. Sedangkan
FEB memiliki tujuh lantai, dan tiga lantai di gedung belakang.
(ruang kelas FISIP)
Selain kedua hal tadi,
kuota tiap kelas yang disediakan juga bisa menjadi faktor. Di FISIP, untuk
mahasiswa semester lima jurusan Ilmu Komunikasi misalnya, mereka memiliki
pilihan mata kuliah yang rata-rata memiliki kuota 100 orang dan hanya
menyediakan satu kelas saja. Sehingga mahasiswa yang memilih mata kuliah
tersebut mau tidak mau harus berada dikelas yang ramai jika kuota benar-benar
tercapai, dan tentunya tidak bisa memilih jadwal lain. sedangkan di FEB,
mahasiswa di semester yang sama memiliki sekitar dua hingga tiga kelas untuk
satu mata kuliah, otomatis mereka juga dapat memilih waktu atau jadwal mereka,
jarang juga mereka mendapat kelas besar yang isinya hingga 100 orang. Dari sinilah
kemudian tidak heran kalau jadwal kuliah antar mahasiswa FISIP dan mahasiswa
FEB bisa sangat berbeda. Mahasiswa FISIP seolah tidak dapat memilih jadwal
karena kelas yang disediakan hanya satu kelas besar, dan mahasiswa FEB
berebutan memilih kelas agar mendapat jadwal yang mereka inginkan.
