Senin, 27 Agustus 2018

Inilah Beda KRS FISIP dan FEB Universitas Airlangga


Inilah Beda KRS FISIP dan FEB Universitas Airlangga



KRS atau Kartu Rencana Study merupakan momen yang sangat penting bagi mahasiswa. KRS bisa dibilang adalah gerbang satu semester yang akan dilalui oleh setiap mahasiswa. Hal inilah yang kemudian menjadikan momen KRS menjadi sangat krusial bagi berjalannya masa kuliah.

Mahasiswa yang berkuliah di Universitas Airlangga misalnya, biasanya dijadwalkan melakukan KRS sekitar tiga hingga dua minggu menjelang masuk semester baru. Di hari pertama mahasiswa sudah bisa mengakses KRS di Cybercampus, dan mulai memilih mata kuliah apa saja yang ingin diambil. Begitu proses gampang terjadinya, tetapi kalau dilihat lebih jauh lagi, proses KRS yang terjadi ini bisa memiliki cerita yang berbeda di tiap fakultas. KRS yang dialami mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik akan berbeda dengan KRS yang anak-anak Fakultas Ekonomi dan Bisnis atau Fakultas Psikologi rasakan. Jika di FISIP, mahasiswa bisa dibilang sangat santai dalam memilih mata kuliah, dapat berdiskusi dan bahkan memiliki beberapa hari untuk memikirkannya. Seperti yang dikatakan oleh Elis, bahwa ia biasanya akan ‘janjian’ dengan teman-temannya untuk mengambil mata kuliah tertentu, ia juga tak jarang mengganti mata kuliah yang sebelumnya sudah akan ia ambil dengan mata kuliah lain setelah berdiskusi dengan temannya. Beda cerita yang dialami oleh Ilma, mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam dari FEB, ia mengatakan “KRS ya harus tepat waktu, berjalannya hanya beberapa menit dan hanya sehari itu saja. Karena kita harus rebutan untuk mendapat kelas.”

Lalu mengapa hal ini bisa terjadi, meskipun mereka dari universitas yang sama, tetapi KRSan yang mereka alami sungguh berbeda. Setelah melakukan wawancara dengan mahasiswa dari kedua fakultas, ternyata ada beberapa penyebab mengapa hal ini terjadi. Yang pertama adalah jumlah mahasiswa yang berbeda. Jumlah mahasiswa baru yang diterima di FISIP tiap tahunnya sekitar 700 orang, artinya tiap jurusan di FISIP memiliki sekitar 100 orang mahasiswa baru. Sedangkan di FEB, memiliki hampir 200an orang di tiap jurusan, berarti ada sekitar 800 mahasiswa tiap tahunnya. Belum lagi mahasiswa yang mengambil tiap mata kuliahnya, di FISIP biasanya mahasiswa tiap tingkat akan mengambil mata kuliah yang sama, mungkin hanya beberapa mahasiswa tingkat atas yang mengambil mata kuliah tersebut, itupun karena mengulang biasanya. Berbeda cerita kalau di FEB, di fakultas ini mahasiswa semester tiga pun bisa mengambil mata kuliah semester 6 atau mahasiswa semester 5 mengambil mata kuliah semester 7, belum lagi banyak kating (kakak tingkat) yang ngulang karena konon katanya ada mata kuliah semester awal yang sangat sulit mendapatkan nilai bagus, mata kuliah ekonomi mikro misalnya. Kedua, jumlah ruang kelas. Bisa dibilang, ruangan kelas yang dimiliki oleh FISP dan FEB memiliki gap yang lumayan. Di FISIP, ruang kelas hanya ada di lantai tiga gedung A, yaitu 14 ruangan dan di gedung C yang memiliki 6-7 ruangan. Sedangkan FEB memiliki tujuh lantai, dan tiga lantai di gedung belakang.

(ruang kelas FISIP)


Selain kedua hal tadi, kuota tiap kelas yang disediakan juga bisa menjadi faktor. Di FISIP, untuk mahasiswa semester lima jurusan Ilmu Komunikasi misalnya, mereka memiliki pilihan mata kuliah yang rata-rata memiliki kuota 100 orang dan hanya menyediakan satu kelas saja. Sehingga mahasiswa yang memilih mata kuliah tersebut mau tidak mau harus berada dikelas yang ramai jika kuota benar-benar tercapai, dan tentunya tidak bisa memilih jadwal lain. sedangkan di FEB, mahasiswa di semester yang sama memiliki sekitar dua hingga tiga kelas untuk satu mata kuliah, otomatis mereka juga dapat memilih waktu atau jadwal mereka, jarang juga mereka mendapat kelas besar yang isinya hingga 100 orang. Dari sinilah kemudian tidak heran kalau jadwal kuliah antar mahasiswa FISIP dan mahasiswa FEB bisa sangat berbeda. Mahasiswa FISIP seolah tidak dapat memilih jadwal karena kelas yang disediakan hanya satu kelas besar, dan mahasiswa FEB berebutan memilih kelas agar mendapat jadwal yang mereka inginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Indonesia Bisa Tingkatkan Minat Baca

Indonesia merupakan salah satu negara dengan minat baca rendah, seperti yang disampaikan UNESCO. Tidak tanggung-tanggung, pada data tahun 2...