Source: pinterest
"This is my age. I'm the prime of my youth and i'll only be young once"
Ketika mendapatkan sebuah tugas untuk menulis personal jurnalistik, saya berpikir sejenak. Tidak tahu apa yang akan ditulis dan bagaimana cara menulisnya. Salah satu tema yang tersedia adalah perjalanan non wisata. Entah kenapa, tema ini kemudian membawa saya ke beberapa waktu lalu, dimana saya menonton sebuah film yang menurut saya klasik untuk kategori film coming-age, yaitu film Stand By Me arahan Rob Reiner yang didasarkan sebuah cerita dalam buku kumpulan kisah Different Season karya Stephen King, king of modern horror, dengan judul The Body. Kisah saya mungkin tidak akan sama dengan kisah empat orang bocah berumur 12an tahun di era 50an yang berjalan melintasi rel kereta api untuk melihat sesosok (?) mayat. Tetapi dari sini, saya merasa relate dengan Gordie, Chris, Teddy dan Vern. Dimana pertemanan dan perjalanan-perjalanan yang saya lalui ketika saya berumur 12 tahun tidak akan pernah terulang.
Source: foto pribadi
taken by me, so you all won't see me :)
Waktu itu saya masih berumur 12 tahun. Baru masuk SMP dekat rumah. Sebagai anak baru yang biasa, saya mulai menjalin pertemanan dengan anak-anak baru yang berasal dari SD yang berbeda yang juga kebetulan bertempat tinggal di dekat rumah saya. Lalu, suatu ketika kami merencanakan sebuah perjalanan. Rencananya kita akan melintasi sawah dan melihat sampai mana sawah tersebut berujung selain itu kami juga berencana mengambil foto-foto untuk di uplaod di Facebook yang sedang hits saat itu. Tim ini beranggotakan saya, Elen yang merupakan sahabatku sejak di TK, Rona, Ogik dan Vivin.
Hari Minggu kemudian, kami berkumpul. Lalu kami pun mulai berjalan. Kami melewati pematang-pematang sawah. Sambil bercanda, dan berbicara ngalor-ngidul. Kami juga sesekali mengambil foto di tempat-tempat tertentu agar terlihat hitz (ini bagian yang memalukan sih, karena foto-fotonya masih kusimpan) . Lalu, entah apa kemudian yang terjadi. Kami tiba-tiba saja berada di tengah-tengah perang lumpur, lhaaa kok bisa? Nggak tau, saya sendiri juga lupa kenapa tiba-tiba anak-anak kecil yang waktu itu juga sedang bermain di sawah menyerang kami dengan bola-bola lumpur. Oh, bocah gendeng, pikirku. tidak sadar kalau saya juga masih bocah. Tidak terima dengan serangan itu, kami pn mulai menyerang. Tapi, NIHIL teman-teman. Serangan kami sangat lemah dan rapuh jika dibandingkan dengan bocah-bocah tanpa alas kaki itu. Sial. Lalu apa daya, kami yang ke empatnya perempuan, dan satu anak laki-laki tapi loyo, hanya bisa lari melewati pematang-pematang sawah. Saya benar-benar lari sangat tanpa melihat kebelakang, juga tanpa melihat dimana kawan-kawan saya yang lain ini. Ya, benar panggil aku egois. Keselamatan diri yang lebih utama. Diantara yang lain, hanya satu orang yang masih ditangkap oleh mataku, yaitu Ogik. Satu-satunya lelaki, dan yang paling loyo diantara kami. Dia sepertinya target utama dari bocah-bocah penyerang kami, saya melihat dengan jelas bola lumpur tepat terkena belakang kepalanya. Dia pun malah tertawa-tawa lalu lari karena tidak bisa membalas, entah ia lari dengan model apa waktu itu, tiba-tiba saja di Ogik ini sudah terperosok jatuh ke irigasi sawah. Dan sekali lagi, panggil aku egois, tentu saja tidak kutolong.
Hari ini sekitar delapan tahun setelah kejadian ‘penyerangan’ lumpur terjadi. saya dan Elen masih berhubungan, meskipun kami bertemu hanya ketika libur atau saya sedang pulang kampung. Sama halnya dengan Rona dan Ogik, kami masih berhubungan melalui Whatsapp, meski sangat jarang. Tetapi sangat jauh dengan Vivin, mungkin kami dari awal tidak sedekat itu, dan kini pun saya tidak pernah mendengar kabar darinya. Mungkin jika kami bertemu lagi, kami hanya akan menjadi orang di satu ruangan yang kebetulan mengenali wajah masing-masing. Dari sinilah, film Stand By Me yang kutonton beberapa waktu lalu membuat ingatanku tersentil bahwa pertemanan dan perjalanan-perjalanan yang kita lakukan dengan teman-teman saat kita berumur 12 tidak akan pernah terulang kembali. Dan seperti yang Stephen King tulis di The Body dan Gordie Lachance katakan di Stand By Me, “Friends come in and out of your life like the waitress in a restaurant”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar